Detail Berita
Panggilan - Panggilan Membentuk Diri
Di Antara Nama dan Makna Ada banyak cara seseorang dikenali. Ada yang melalui karya, ada yang melalui jabatan, dan ada pula yang melalui panggilan. Bagi saya, panggilan bukan sekadar sapaan, tetapi perjalanan panjang yang merekam perubahan zaman, lingkungan, dan relasi sosial.
Saya tidak pernah secara khusus meminta untuk dipanggil dengan sebutan tertentu. Namun dalam perjalanan hidup, panggilan itu datang silih berganti - mengalir begitu saja, mengikuti ruang dan waktu. Dari ajo, uda, abang, hingga tuanku, dari abak hingga papa, dan dari kakak hingga buya. Semua memiliki cerita.
Ajo yang Mulai Tergeser, Saya lahir dan besar dalam kultur Padang Pariaman, sebuah wilayah yang kaya dengan tradisi lisan dan struktur sosial yang kuat. Dalam tradisi ini, panggilan ajo adalah sesuatu yang khas. Ia bukan sekadar panggilan untuk kakak laki-laki, tetapi juga simbol penghormatan dan kedekatan sosial.
Namun, ketika saya tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, perlahan saya menyaksikan perubahan. Modernisasi mulai masuk ke kampung-kampung. Televisi, pendidikan formal, dan interaksi lintas daerah membawa pengaruh baru, termasuk dalam cara orang saling memanggil.
Adik kandung saya memilih memanggil saya dengan sebutan abang. Ia ingin membedakan dengan kakak saya yang dipanggil uda. Pilihan ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan perubahan besar: pergeseran dari panggilan lokal ke panggilan yang lebih nasional.
Di sisi lain, sepupu saya justru memanggil saya uda, mengikuti kebiasaan umum di Minangkabau. Sementara panggilan ajo, yang secara kultural paling dekat dengan identitas Padang Pariaman, perlahan mulai jarang terdengar di lingkungan keluarga saya sendiri. Di sinilah saya mulai memahami bahwa panggilan tidak hanya soal tradisi, tetapi juga soal pilihan dan pengaruh zaman. Pesantren dan Lahirnya “Kakak” Ketika saya memasuki dunia pesantren, saya kembali menemukan bentuk panggilan yang berbeda. Para santri yunior memanggil saya dengan sebutan kakak. Panggilan ini terasa netral, tidak terlalu lokal, dan tidak pula terlalu formal.
Saya sering bertanya dalam hati: mengapa bukan ajo atau uda? Pesantren tempat saya belajar sebenarnya berakar dari tradisi surau. Dalam tradisi lama, panggilan seperti ajo atau bahkan guru tuo lebih lazim digunakan untuk menyebut senior atau orang yang dituakan dalam ilmu.
Namun, pesantren kami sudah mulai bertransformasi. Sistem belajar sudah menggunakan meja dan kursi, santri mengenakan seragam, bahkan mulai menerima santriwati. Dalam proses perubahan itu, tanpa disadari, kultur panggilan pun ikut berubah. Kemungkinan besar, pengaruh pesantren modern di Jawa turut membentuk pola ini. Panggilan kakak menjadi semacam titik temu cukup sopan, cukup egaliter, dan mudah diterima oleh semua.
Sejak saat itu, saya terbiasa dipanggil kakak oleh yunior, sebuah panggilan yang terasa sederhana, tetapi mencerminkan perubahan sistem pendidikan Islam di daerah kami. Sekolah, Kampung, dan Panggilan yang Mengalir Memasuki masa SMA, variasi panggilan semakin beragam. Ada yang memanggil saya kakak, ada yang tetap menggunakan abang, dan ada pula yang memanggil uda. Tidak ada standar, tidak ada aturan baku. Semuanya terasa cair.
Ketika saya pulang ke kampung, perubahan lain kembali terjadi. Anak-anak kampung mulai memanggil saya kakak atau akak. Rupanya, ini dipengaruhi oleh kakak saya yang lebih dahulu pulang dan mengajar mengaji. Ia membiasakan santri-santrinya menggunakan panggilan tersebut.
Dari situ saya menyadari satu hal penting: panggilan sering kali bukan ditentukan oleh diri kita, tetapi oleh orang lain yang lebih dulu membentuk kebiasaan di sekitar kita. Tuanku: Sebuah Kehormatan dan Tanggung Jawab. Tahun 1997 menjadi titik penting dalam hidup saya. Setelah menamatkan pendidikan di pesantren, saya memperoleh gelar Tuanku.
Sejak saat itu, masyarakat di kampung mulai memanggil saya dengan sebutan tersebut. Panggilan ini berbeda dengan yang sebelumnya. Ia bukan sekadar sapaan, tetapi sebuah gelar kehormatan bagi tamatan pesantren di Padang Pariaman yang sarat makna.
Dalam tradisi Minangkabau, Tuanku adalah simbol keilmuan, kepemimpinan agama, dan tanggung jawab moral. Ia bukan hanya identitas pribadi, tetapi juga amanah sosial. Ada konsensus antara guru di pesantren dengan mamak dan orang tua di kampung. Namun menariknya, panggilan ini tidak selalu dominan di semua ruang. Di lingkungan tertentu, ia tetap hidup. Di tempat lain, ia seolah “mengalah” kepada panggilan yang lebih kontekstual.
Kampus dan Organisasi: Kembali ke Akar, Lalu Berubah Lagi
Ketika saya melanjutkan pendidikan di Universitas Andalas, saya justru kembali dipanggil ajo. Panggilan khas daerah saya itu hidup kembali di rantau. Seolah-olah identitas lokal menemukan ruangnya di tengah pertemuan berbagai latar belakang.
Namun, di lingkungan kampus lain dan organisasi seperti HMI, saya lebih sering dipanggil abang. Ini menjadi semacam standar nasional dalam relasi senior-junior. Bahkan di Padang Pariaman sekalipun, yunior organisasi tetap memanggil saya abang, bukan ajo atau tuanku. Ketika ada yang bertanya mengapa demikian, saya hanya menjawab sederhana:
“Ini sudah menjadi budaya organisasi.”
Abak yang Tak Bertahan Lama
Dalam kehidupan keluarga, saya sempat memiliki harapan untuk mempertahankan panggilan tradisional. Saya dan istri sepakat menggunakan sebutan abak dan amak untuk anak-anak kami.
Anak pertama dan kedua saya tumbuh dengan panggilan itu. Bahkan lingkungan sekitar ikut menggunakannya, hingga saya dikenal sebagai “Abak Sasa”.
Namun, perubahan kembali terjadi. Anak bungsu saya, yang diasuh oleh keluarga dekat istri saya dengan kebiasaan anaknya memanggil papa dan mama, secara alami anak saya mengikuti pola tersebut. Tanpa saya sadari, ia mulai memanggil saya papa.
Perlahan, kedua kakaknya pun ikut berubah. Panggilan abak yang saya harapkan menjadi identitas keluarga, akhirnya bergeser menjadi papa.
Saya sempat bertanya-tanya dalam hati: mengapa perubahan itu begitu mudah terjadi?
Jawabannya mungkin sederhana:
kebiasaan lebih kuat daripada rencana.
Buya di Pesantren, Papa di Rumah
Di sisi lain kehidupan saya, sebagai pengasuh pesantren, para santri memanggil saya buya. Panggilan ini terasa hangat, penuh penghormatan, dan sangat khas dalam tradisi keilmuan Minangkabau.
Namun ada satu ironi yang selalu membuat saya tersenyum:
anak-anak saya sendiri, yang juga hidup di lingkungan pesantren, tetap memanggil saya papa, bukan buya.
Pernah saya bercanda meminta mereka mengganti panggilan itu. Mereka hanya tertawa. Bagi mereka, panggilan bukan lagi pilihan, tetapi kebiasaan yang telah melekat.
Panggilan sebagai Jejak Perjalanan
Jika saya melihat ke belakang, saya menyadari bahwa hidup saya dipenuhi oleh berbagai panggilan: Ajo di rantau, Abang di organisasi, Kakak di pesantren, Tuanku di masyarakat, Buya di lingkungan santri, Abak, lalu Papa di keluarga. Semua itu bukan kontradiksi, melainkan mozaik perjalanan.
Setiap panggilan merekam fase kehidupan, lingkungan sosial, dan perubahan zaman yang saya lalui. Tidak ada yang sepenuhnya hilang, dan tidak ada yang sepenuhnya tetap.
Pada akhirnya, saya sampai pada satu pemahaman sederhana:
kita mungkin hanya memiliki satu nama, tetapi bisa memiliki banyak panggilan—dan di situlah cerita hidup kita (RTS).